Jakarta, Kamis, 23 April 2026 — Indonesia menunjukkan posisi strategis di pasar global setelah produksi pupuk nasional mengalami surplus signifikan, sehingga menarik minat sejumlah negara seperti Australia dan India untuk menjalin kerja sama impor.
Pemerintah menyatakan bahwa melimpahnya produksi pupuk, khususnya urea, membuka peluang ekspor hingga sekitar 1 juta ton ke berbagai negara mitra. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pupuk dunia akibat gangguan distribusi global dan tingginya permintaan sektor pertanian di sejumlah negara.
Negara-negara seperti India dan Australia disebut menjadi tujuan utama ekspor, seiring kebutuhan mereka untuk menjaga ketahanan pasokan pangan domestik. Selain itu, beberapa negara lain juga mulai melirik Indonesia sebagai pemasok pupuk alternatif di tengah ketidakpastian pasar global.
Kapasitas produksi pupuk nasional yang besar, didukung ketersediaan bahan baku gas alam, menjadi keunggulan Indonesia dibandingkan negara lain. Hal ini membuat Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki kelebihan produksi yang dapat diekspor.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani dalam negeri, terutama untuk pupuk bersubsidi. Ekspor hanya dilakukan dari sisa produksi setelah kebutuhan nasional terpenuhi.
Meningkatnya minat dari berbagai negara ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok pupuk global. Ke depan, pemerintah juga berencana meningkatkan efisiensi produksi melalui revitalisasi pabrik guna menjaga daya saing di pasar internasional.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi penopang pasokan pupuk dunia di tengah dinamika global yang terus berubah.