Ketersediaan Cadangan Beras di Wilayah BULOG Jawa Timur Bisa Untuk 14 Bulan Kedepan

Ketersediaan beras di Jawa Timur dipastikan dalam kondisi aman. Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur mencatat stok beras saat ini mendekati 1 juta ton, jumlah yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 14 bulan ke depan.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jatim, Langgeng Wisnu Adinugroho, menyampaikan bahwa cadangan tersebut dikelola secara optimal, baik dari sisi penyimpanan maupun menjaga kualitasnya. Ia menegaskan, stok yang tersedia masih sangat mencukupi untuk jangka panjang.

Menurutnya, Bulog menerapkan sistem pengelolaan gudang yang terintegrasi, termasuk pengendalian hama serta perawatan kualitas beras melalui metode pengendalian hama gudang terpadu (PHGT). Dengan sistem tersebut, kualitas beras tetap terjaga meskipun disimpan dalam waktu lama. Bahkan, stok hasil pengadaan tahun 2025 yang masih tersimpan hingga kini tetap dalam kondisi baik.

Langgeng juga menjelaskan bahwa sebagian besar stok yang dikuasai Bulog merupakan beras medium yang masuk dalam kategori Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Beras ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti bantuan pangan, program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), hingga penanganan bencana. Sementara itu, beras premium tersedia dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan pasar umum.

Seiring dimulainya musim panen, Bulog terus meningkatkan penyerapan gabah dan beras dari petani. Secara nasional, target penyerapan tahun ini mencapai 4 juta ton setara beras, dengan kontribusi dari Jawa Timur ditargetkan sekitar 883 ribu ton. Hingga saat ini, realisasinya di wilayah tersebut telah mendekati 300 ribu ton atau sekitar 32 persen dari target nasional.

Dari total penyerapan nasional yang hampir menyentuh 1 juta ton, sekitar 300 ribu ton berasal dari Jawa Timur. Hal ini kembali menegaskan peran penting provinsi tersebut sebagai salah satu lumbung padi utama di Indonesia.

Menghadapi puncak panen yang diperkirakan berlangsung pada akhir Maret hingga April 2026, Bulog memastikan kegiatan pembelian gabah tetap berjalan, termasuk saat periode Lebaran. Hal ini dilakukan karena hasil panen tidak dapat ditunda terlalu lama tanpa risiko penurunan kualitas.

Untuk mendukung penyerapan tersebut, Bulog tetap mengoperasikan tim jemput gabah yang bertugas mengambil hasil panen langsung dari petani, meskipun dilakukan dengan penyesuaian selama libur Lebaran.

Meski aktivitas penggilingan sempat melambat saat hari raya akibat keterbatasan tenaga kerja, kondisi tersebut diperkirakan segera pulih. Umumnya, operasional mulai kembali berjalan pada H+2 atau H+3 dan kembali normal sepenuhnya sekitar H+5 setelah Lebaran.

Berdasarkan hasil analisis, Bulog optimistis target penyerapan beras di Jawa Timur dapat tercapai, bahkan diperkirakan terpenuhi pada akhir Mei 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *